Cerita Sex Rindu Kehangatan Part 5

Diposting pada

Cerita Sex Rindu Kehangatan Part 5 – Nina akhirnya mendengar juga kabar burung mengenai hubungan suaminya dengan Siti Nara, atasan suaminya. Mulanya dia tak percaya begitu saja dengan kabar burung itu. Namun, suatu hari akhirnya dia melihat dengan mata kepala sendiri kalau suaminya tampak mesra dengan seorang wanita cantik yang penuturan teman-teman sekantor Susilo adalah atasan mereka.

Cerita Sex Rindu Kehangatan Part 5

Cerita Sex Rindu Kehangatan Part 4
Namun jika Nina mendesaknya, Susilo selalu memberi alasan dengan mengatakan bahwa semua hanya bohong belaka. Malah semakin didesak, Susilo malah balik marah. Yang jika diteruskan, bisa mengakibatkan pertengkaran. Sehingga Nina pun akhirnya mengalah diam. Meski dengan hati yang menjerit sakit.
Karena Susilo tak mau memberitahu alasan akan perubahan sikapnya, Nina jadi curiga. Nina yakin ada sesuatu yang di sembunyikan suaminya, namun apa? Dia tak tahu, karena itu Nina bermaksud untuk menyelidikinya, sehingga dia akan tahu apa yang telah menyebabkan suaminya jadi beruhah.
Ketika jam menunjukkan pukul lima sore, saat Susilo keluar dari kantornya, dengan menyewa taksi, Nina mengawasi suaminya.

Cerita Sex Rindu Kehangatan Part 5  – Lama Nina menunggu suaminya keluar. Setelah hampir satu jam, tampak dari dalam kantor Susilo keluar beriringan dengan Siti Nara. Keduanya tampak sangat mesra, berjalan beriringan menuju ke mobil baby benz hitam metalik milik Siti Nara. Lalu, keduanya pun masuk ke dala mobil itu.
“Oh, rupanya perempuan itu yang selama ini mengganggu suamiku. Pantas Mas Susilo jadi tidak betah di rumah,” desis Nina dalam hati dengan perasaan terasa perih dan sakit, melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain.
Susilo dan Siti Nara yang tak tahu kalau mereka diikuti, tampak tenang-tenang saja. Mobil baby benz warna hitam metalik itu pun perlahan melaju, membawanya keduanya meninggalkan pelataran parkir kantor.
Nina pun terus mengikuti ke arah mana mobil suaminya yang membawa Siti Nara pergi.
“Ikuti Baby Benz itu, Bang,” pinta Nina pada supir taksi.
“Baik, Bu.”
Taksi yang dinaiki Nina pun terus menguntit kemanapun mobil Daihatsu Taruna yang di kendarai Susilo pergi. Dan akhirnya, mm, rupanya disini rumah pelacur itu dan kesal.
“Kita kembali, Bang,” pinta Nina setelah mengamati rumah itu untuk beberapa saat lamanya.
Supir taksi pun menurut, menjalankan mobilnya meninggalkan jalanan di depan rumah kos Siti Nara. Membawa Nina pergi dengan hati yang menjerit perih.

***

Keesokan harinya, dengan membawa kesal dan cemburu, Nina pun mendatangi rumah perempuan yang menjadi kekasih suaminya. Ketika Nina datang, saat itu Siti Nara tengah merapikan rumahnya. Siti Nara bergegas menuju ke pintu rumahnya untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.
“Selamat siang?”sapa Nina.
“Siang . . . Cari siapa?”
“Nama saya Nina. Saya mau bertemu denganmu.”
“Dengan saya?”
“Ya.”
“Oh, kalau begitu silahkan masuk,” ajak Siti Nara seraya membuka pintu rumah lebar-lebar, mempersilahkan Siti Nara masuk.
“Hm, nyaman juga disini. Pantas Mas Susilo betah berada disini,” sindir Nina.
“Anda siapa dan dan dari mana anda tahu nama Susilo?” tanya Siti Nara heran. Sebab selama ini, dia merasa tak pernah berhubungan dengan wanita cantik yang datang berkunjung ke rumahnya itu.
Nina hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Kau tidak mempersilahkan aku duduk?”
“Oh, maaf . . . Duduklah.”
Nina pun menurut duduk.
“Mau minum apa?” tanya Siti Nara berusaha bersikap ramah. Sebab bagaimana juga, Nina adalah tamunya yang pantas dihormati.
“Tak usah repot . . .”
“Ah, tidak . . . Sebentar kuambilkan.” Siti Nara pun meninggalkan Nina menuju ke ruang makan dimana kulkas berada. Tak lama kemudian, dia telah kembali keluar dengan membawa dua buah minuman kaleng. Diletakkannya kedua kaleng berisi minuman di atas meja di depan Nina. “Silahkan diminum. . .”
“Terimakasih . . .” jawab Nina.
“Maaf, kalau boleh saya tahu, mbak siapa dan ada keperluan apa?” tanya Siti Nara.
“Namaku Nina. Saya kemari untuk membicarakan masalah yang ada diantara kita.”
Terbelalak mata Siti Nara mendengar nama perempuan cantik itu. Kini dia tahu, siapa perempuan cantik yang menjadi tamunya, yang tak lain adalah istri Susilo.
“Masalah kita.”
“Aku tak merasa punya masalah dengan Mbak,” tukas Siti Nara.
Nina tersenyum sambil menggelengkan kepala, membuat Siti Nara seketika mengerutkan kening dengan mata memandang lekat ke wajah wanita cantik yang sedang hamil itu.
“Sekarang kita punya masalah.”
“Masalah apa. . .?” tanya Siti Nara.
“Mengenai Mas Susilo.”
“Susilo . . .?” ulang Siti Nara.
“Ya, Mas Susilo.”
“Kenapa dengan Susilo?”
“Aku ingin tanya padamu, apa maumu yang sebenarnya?” tanya Siti Nara dengan mata memandang tajam ke arah Siti Nara.
“Maksud Mbak . . .?”
“Apa kau tahu, kalau Mas Susilo sudah beristri?”
“Kalau begitu, kenapa kau menggoda dan merayunya?”
“Aku tak menggoda dan merayunya. Kami sama-sama suka. Apa salah?” Siti Nara balik bertanya. Seakan tak merasa berdosa dengan apa yang telah diperbuatnya.
“Aku tak percaya. Suamiku tak akan berbuat seperti itu, kalau tidak kau rayu.”
“Kalau kau tak percaya, silahkan kau tanya sendiri suamimu. Kebetulan dia sedang tidur. Mau kubangunkan. . .?” tanya Siti Nara.
Terbelalak mata Nina mendengar penuturan Siti Nara yang memberitahukan kalau Susilo ada di rumah itu dan masih tidur. Hati Nina semakin bertambah kecewa dan marah.
Belum jiga Nina sempat berkata, dan belum juga Siti Nara memanggil, dari dalam kamar keluar Susilo hanya mengenakan kimono. Sepertinya baru bangun tidur dan tentu semalam, telah melakukan hubungan badan dengan Siti Nara.
“Kau . . .!” suara Nina tercekat di tenggorokan. Matanya membuka lebar, memandang tak percaya ke arah Susilo. Sungguh, Nina tak menduga sama sekali,  kalau suaminya yang selama ini dicintai dan kepadanya dia serahkan segalanya bahkan dia rela menderita demi cintanya pada lelaki itu, ternyata tega mengkhianati dan menyakiti hatinya.
“Nina. . .”
“Bajingan! Pengkhianat!” kecam Nina sambil menangis. “Tak kusangka, Kau akan sekejam ini, Mas. Aku benci kamu! Aku benci. . .!”
“Nina, dengarkanlah dulu. . .”
“Tidak! Aku tak mau mendengar lagi. Aku sudah cukup sabar mau hidup menderita denganmu, namun kenapa kau sampai begitu tega menyakiti  perasaanku? Kalau tahu begini, lebih baik aku menuruti saja apa yang sudah orang tuaku rencanakan untukku.”
Setelah berkata begitu, sambil menangis Nina pun pergi meninggalkan rumah Siti Nara. Takut istrinya nekad, Susilo pun berusaha mengejar.
“Nina, maafkan aku. . .”
“Aku tak percaya. Sebaiknya kita berpisah saja.”
“Tapi. . .”
“Aku tak perduli. . .! Aku benci kamu. . . Aku benci. . . !” jerit Nina seraya berlari pergi meninggalkan rumah Siti Nara dimana suaminya berada dengan membawa perasaan sakit dan kecewa.

***

Nina yang kecewa pada suaminya, terus melangkah sambil menangis. Perasaannya sudah tak menentu. Semangatnya untuk hidup, sudah tak ada lagi. Dia pikir, percuma saja dia h    Nina yang kecewa pada suaminya, terus melangkah sambil menangis. Perasaannya sudah tak menentu. Semangatnya untuk hidup, sudah tak ada lagi. Dia pikir, percuma saja dia h    Nina yang kecewa pada suaminya, terus melangkah sambil menangis. Perasaannya sudah tak menentu. Semangatnya untuk hidup, sudah tak ada lagi. Dia pikir, percuma saja dia hidup jika harus menanggung derita yang sangat berat. Bukanlah lebih baik dia mati saja dengan membawa bayi dalam kanduidup jika harus menanggung derita yang sangat berat. Bukanlah lebih baik dia mati saja dengan membawa bayi dalam kandungannya.
Apa yang selama ini dikhawatirkannya, benar-benar telah menjadi kenyataan. Dengan air mata terus mengalir dan pikiran tak menentu, Nina terus melangkah menyusuri jalan menerobos gelapnya malam. Tekadnya sudah bulat, dia akan mengakhiri hidupnya saja, ketimbang hidup dengan menanggung penderitaan jiwa.
Hujan turun dengan derasnya, tercurah dari langit. Seakan hujan turutmenangis sedih, melihat kesedihan yang tengah dialami oleh calon ibu muda itu. Petir pun menyambar-nyambar dengan disertai dentuman suaranya yang keras dan menggelegar, bagaikan turut meraung atas tangis kesedihan yang dirasakan oleh Nina.
Langkah kaki Nina akhirnya sampai di sebuah jembatan. Dia berdiri di sana, sambil memandang ke arah air sungai yang banjir karena hujan. Dengan sekali lompat saja, maka tubuhnya akan tenggelam dan hanyut.
Nina menengadahkan wajahnya, memandang ke arah langit.
“Mas Susilo, teganya kau mengkhianati cinta dan ketulusanku. Dari pada aku harus hidup menderita, lebih baik aku mati saja bersama anak yang kukandung, sehingga kau akan bebas . . . Selamat tinggal, Mas. . . Semoga kau bahagia dengan perempuan itu.”
Hampir saja Nina melompat, ketika dari belakang sebuah tangan dengan cepat menangkap tangannya dan menariknya menjauh dari jembatan.
“Sinting!” maki orang itu dengan kesal. “kau kira dengan cara bunuh diri, akan menyelesaikan masalah?!”
Nina menangis dan memandangke wajah orang itu lekat.
“Untuk apa aku hidup. . .”
“Untuk apa? Kau tanya untuk apa?” lelaki muda itu balik bertanya seraya balas memandang lekat wajah Nina yang basah oleh air mata dan air hujan. “Banyak yang harus kau kerjakan, Nina. Kenapa kau korbankan nyawamu hanya karena suamimu? Ingat bayi dalam kandunganmu. Ingat bagaimana kelak dia akan menjadi seorang anak yang dapat melipur lara hatimu.”
“Lalu, apa artinya tanpa suami? Bagaimana jika kelak anakku bertanya tentang ayahnya?”
“Jika kau percaya padaku, aku akan membantumu.”
“Maksudmu?”
“Lupakan dia. Dia saja tak perduli padamu, kenapa kau harus memikirkan dia? Kau masih muda. Masih panjang perjalanan hidupmu,” tutur lelaki itu.
Nina terdiam.
“Lelaki bukan hanya dia seorang. Tetapi masih banyak. . . kenapa kau harus menyiksa diri, hanya karena seorang lelaki? Kalau kau mau, kau bisa mendapatkan banyak lelaki. Aku akan membantumu . . .”
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Ikut aku.”
“Kemana. . .?”
“Tak perlu bertanya, nanti juga kau akan tahu. . .”
Nina akhirnya menurut, mengikuti lelaki yang berjanji akan menolongnya, meski dia tak tahu pertolongan apa yang akan diberikan lelaki itu kepadanya.
Nina pun menurut masuk ke dalam mobil, ketika lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu membukakan pintu mobilnya. Kemudian setelah Nina masuk, lelaki itu pun masuk pula ke mobil dan duduk di belakang stir. Tak lama kemudian, mobil sedan BMW warna hitam metalik itu pun melaju, membawa Nina pergi,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *