Cerita Sex Rindu Kehangatan Part 6

Diposting pada

Cerita Sex Rindu Kehangatan Part 6   “Namaku Sumarto,” lelaki gagah itu memperkenalkan namanya ketika mobil yang membawa Nina sudah melaju. “Namamu. . .?”
“Nina.”
“Tadi kudengar kau menyebut nama lelaki dan juga kandungan. Benar kau mengandung?”
Nina mengangguk dengan wajah murung.

Cerita Sex Rindu Kehangatan Part 6

Cerita Sex Rindu Kehangatan Part 4

“Maaf, kalau boleh aku tahu, apa yang sebenarnya terjadi padamu?”tanya Sumartono hati-hati. Sepertinya dia ingin menyinggung perasaan Nina yang dia tahu sedang dalam keadaan labil psikisnya.
Nina tak langsung menjawab. Sesaat dia memandang ke wajah Sumartono, seakan berusaha untuk memastikan, apakah lelaki yang menolongnya itu benar-benar bermaksud baik atau sebaliknya. Namun setelah cukup lama dia perhatikan, Nina tak menemukan tanda kalau lelaki itu bermaksud tak baik kepadanya.

Cerita Sex Rindu Kehangatan Part 6 – Apalagi dengan apa yang telah dilakukannya yaitu menolongnya dengan cara menggagalkannya mati bunuh diri. Itu sudah menunjukkan bahwa lelaki setengah baya bernama Sumartono itu benar-benar beritikad baik. Namun yang belum dimengerti oleh Nina, apa yang membuat Sumartono ingin menolongnya?
Hanya sekedar belas kasih sesama manusia? Ah, rasanya terlalu gampang alasan itu dijadikan sebagai landasan. Sebab di kota sebesar Jakarta ini, sudah sangat langka orang yang punya sifat seperti itu, yang mau memperhatikan kesusahan orang lain dan mau menolongnya tanpa pamrih. Lalu, kalau memang Sumartono menolongnya berdasarkan pamrih apa yang dikehendaki oleh lelaki itu darinya?
“Kuharap kau tak berprasangka buruk kepadaku,” kata Sumartono, seakan dia mendalami perasaan hati perempuan muda dan cantik yang ada di sampingnya. “Dengan jujur kukatakan, bahwa apa yang kulakukan, semata-mata karena aku ingin berbuat baik untuk menebus dosa dan kesalahan yang telah kuperbuat pada seorang wanita.”
Nina terdiam, bagai tak perduli dengan apa yang diucapkan oleh Sumartono. Dia hanya memandang sesaat ke arah Sumartono, lalu kembali terpekur dalam kebisuannya.
“Akan kuceritakan padamu, dosa apa yang telah kuperbuat sehingga aku benar-benar sangat menyesalinya. Setelah kau mendengar ceritaku, kuharap kau mau percaya padaku dan tidak berprasangka buruk kepadaku. . .”
Sumartono pun kemudian bercerita:
“Dulu,” dia memulai. “Tujuh belas tahun yang silam, aku punya seorang kekasih yang begitu tulus mencintaiku, namanya Siti Nara. Begitu juga halnya dengan aku. Aku pun mencintainya. Bahkan, kedua orang tua kami juga menyetujui hubungan kami. . .”
Hubungan cinta antara Sumartono dengan Siti Nara, bermula ketika mereka duduk di bangku SMA. Dan hubungan itu, terus berlanjut sampai mereka kuliah.
Sampai suatu hari, Sumartono bertemu dengan seorang gadis, namanya Anita. Sebenarnya dibanding dengan Siti Nara, Anita masih kalajh cantik. Bahkan pertama kali bertemu pun, Sumartono tak tertarik pada gadis itu. Namun entah mengapa, suatu hari setelah menghisap rokok yang diberikan oleh teman kuliahnya yang kemudian hati diketahui bahawa rokok itu adalah pemberian Anita, perasaan Sumartono pada gadis itu berubah. Dari semula tak suka dan benci, berbalik menjadi cinta. Malah, Sumartono jadi bisa melupakan Siti Nara. Gadis yang dengan tulus suci mencintainya.
Setelah Sumartono menyelesaikan pendidikan di universitas dan diterima bekerja sebagai kepala bagian di sebuah perusahaan swasta bonafid, mereka pun menikah.
Namun tanpa sepengetahuan Sumarto, Anita menjalin hubungan lagi dengan mantan kekasihnya. Mereka sering bertemu jika Sumartono sedang tidak ada di rumah.
Seperti halnya siang itu, saat Sumartono sedang tak ada di rumah, Boby kembali datang menemui kekasihnya.
“Anita. . .”
“Oh, Boby. . . Aku sudah kangen sekali padamu.”
“Aku pun begitu, Anita. . .”
Keduanya saling berpelukan.
“Ayo masuk,” ajak Anita seraya membimbing kekasihnya masuk ke dalam rumahnya.
Boby yang memang sudah rindu berat menurut masuk. Bahkan, ketika Anita membimbingnya masuk ke dalam kamarnya, Boby tetap menurut.
“Siang ini kamu kelihatan cantik sekali, Anita. . .” puji Boby jujur.
“Semua ini kan untukmu, Bob. . .”
Boby benar-benar tergoda. Setelah meneguk minumannya, ia langsung memeluk Anita dan menciumi bibirnya. Anita membalasnya dengan penuh gairah. Samapi mereka jatuh terbaring di sofa. Ciuman dan remasan mereka makin  mendebarkan. Tangan Boby merambat turun ke paha Anita yang berkulit putih mulus itu. Kenyal dan padat kedua paha yang indah ramping itu.
Lalu Boby menyusup masuk ke dalam rok itu, meremas dan memilin sampai ke pangkal pahanya. Anita menggelinjang ketika remasan tangan Boby menyentuh di bagian yang sangat peka sekali. Dan ketika ciuman bibir Boby singgah di payudaranya, Anita mendesah-desah.
Boby sudah tak terkendalikan lagi napsunya. Lalu buru-buru pula dia melepaskan dia melepaskan rok Anita. Melucuti apa saja yang menempel di tubuh gadis itu hingga polos.
Mengagumkan sekali. Boby termangu-mangu setelah melihat keindahan tubuh Anita. Tubuh gadis yang terkulai di ranjang itu kulitnya putih sekali. Pinggul dan kedua paha gadis itu sangat indah. Pinggulnya besar dan kedua pahanya bulat ramping. Begitu pun betisnya.
Boby memandangi kedua bukit di dada Anita yang membusung besar dan mulus itu. Kali ini Boby melihat seluruh kesempurnaan gadis itu dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.
“Ayo, Boby. .” pinta Anita yang mendesah-desah.
Boby dengan cepat membuka seluruh pakaiannya. Anita termangu melihat kejantanan Boby. Dia jadi ingat pentungan kasti. Hal itu tak pernah dibayangkan sebelumnya. Makanya ia jadi begitu mendambakannya.
Ciuman Boby mulai singgah di bukit kenyal itu. Tangannya mengelus-elus dan menyusuri setiap lekukan ditubuh Anita. Meremas dan memilin ke bagian-bagian yang paling sensitif. Begitu pun ciuman dan lumatan bibirnya. Anita menggeliat-geliat sambil mendesah.
Bagaikan musafir di pandang gersang. Lima tahun Boby tidak menikmati tubuh wanita. Makanya dia begitu agresif dan rakus sekali. Kemudian Boby menyerangnya. Dia tidak sadar kalau sebenarnya gadis itu sedang memasang perangkap. Sengaja dibikin seolah-olah dia masih perawan. Dia menggunakan jamu bubuk yang bisa membikin rapat kembali, seperti perawanan.
Tapi Boby terus menerjang bagai kuda liar yang memakan rumput karena laparnya. Lima tahun mendekam di penjara. Serasa meminum air dalam dahaga. Sedangkan Anita megap-megap. Merintih kenikmatan.
Anita menggigit dada Boby sambil menangis. Dia ingin melepaskan pelukan dan terjangan lelaki itu. Pentungan kasti itu terasa menusuk dan mengorek-orek di dalam tubuhnya. Sungguh sukar dilukiskan rasa nikmatnya. Apalgi Boby begitu mahirnya sebagai joki. Anita mengimbanginya seperti kuda teji, sekali pun dia megap-megap. Kelojotan saking nikmatnya.
Ranjang itu jadi arena permainan nafsu yang mengasyikkan. . Batang kelelakian milik Boby semakin hebat keluar masuk di arena permainan. Anita seperti terbang ke awang-awang. Sejuta kenikmatan dirasakannya di sana. Berulangkali dia mencapai orgasme. Begitu pun Boby. Kuda teji yang ditungganginya memang lihay. Tubuhnya yang indah itu meliuk-liuk dan bergoyang-goyang seperti penari erotis.
Anita terus menggeliat-geliat. Ia sudah tak konsentrasi lagi. Ia merasakan dekapan hangat dari seorang laki-laki pujaannya.
“Ohhh, Boby. . . Teruskan, Boby. . .!”
Tangan Anita membantu tangan Boby untuk meremas buah dadanya itu. Ia sudah lama menginginkan kehangatan seperti itu.
Dua pasangan manusia lain jenis itu segera mengatur posisi tubuhnya. Boby mendaratkan sebuah ciuman yang mesra di bibir perempuan cantik itu. Dengan berulang-ulang, Boby mendaratkan ciuman.
Bibir Anita yang  sensual itu segera menangkap bibir Boby. Sehingga mereka pun saling melumat bibir dan memilin lidah itu.
Tangan Boby segera mendekap erat tubuh Anita, sambil mengusap-usap punggung wanita cantik itu. Dua buah dada itu menekan dada Boby. Hangat terasa. Apalagi buah dada itu masih sangat kenyal.
Merasa puas, Boby segera melepaskan ciuman bibir itu. Dagu Anita sempat mendapatkan ciuman. Dan langsung turun ke arah dada yang tadi terasa hangat.
Tangan Boby merangkul tubuh wanita cantik itu dan membalikkan tubuh yang sedang berangkulan itu. Hingga tubuhnya gantian menindih tubuh Anita.
Boby mengangkat tubuhnya seperti orang akan pus-up. Sedang tangan Anita memandu kembali senjata laras pendek milik Boby sambil meregangkan kedua pahanya.
“Tekan, Boby. . .!” Anita memberi aba-aba.
Secara perlahan-lahan Boby menurut menekan pinggulnya ke bawah. Sehingga ujung dari senjatanya menyeruak masuk dan menancap di antara dua bibir gua kemaluan Anita.
Tubuh Boby segera telungkup dengan kedua siku tangan menahan tubuhnya. Lalu Boby segera mengayunkan pinggul, sehingga senjatanya masuk ke dalam rongga vagina yang sejak tadi basah dan licin.
“Ouw. . .!” Anita mendesah sambil menahan nafas. Matanya terpejam sementara waktu,  menahan rasa nikmat bercampur perih. Terasa ada sesuatu yang sangat mengganjal sekali. Tapi ia sadar bahwa itu akan membawa suatu kenikmatan yang luar biasa, sebagaimana yang pernah dirasakannya saat pertama kali Boby menyetubuhinya.
Untuk beberapa saat tubuh Boby menahan. Ia juga merasakan senjata miliknya sangat kejang terjepit di antara duah buah bibir yang masih sempit.
Tubuh Boby mulai berkeringat. Butir-butir keringat sudah berjatuhan membasahi tubuh wanita cantik itu yang berada di bawah tubuh Boby.
Boby kembali menggerakkan pinggulnya. Dengan hanya gerakkan sedikit saja, maka batang kelelakiannya kembali menyeruak masuk, semakin  bertambah dalam.
Setiap Boby membuat gerakkan, Anita selalu mendesah dan meringis menahan rasa nyeri. setiap gesekan antara kulit dan bibir gua milik Anita, selalu timbul desahan dan rintihan kenikmatan.
Boby sudah berani untuk menggerakkan agak cepat dan cepat. Anita semakin menikmati gesekan itu. Anita yang semula merasa kesakitan, sekarang berubah menjadi kenikmatan yang sangat didambakan dan belum pernah dirasakannya.
“Ouh. . .!” Anita mendesah panjang, ketika pinggul Boby bergerak makin mantap daya tekannya.
Keduanya terus berpacu, berusaha mencapai ke puncak kenikmatan yang mereka inginkan. Dan akhirnya. . .
“Ouhh. . .!”
Anita melenguh panjang. Begitu juga dengan Boby. Lelaki itu mengerahkan seluruh tenaganya berusaha bertahan. Namun akhirnya cairan yang kental dan lengket menyemburkan dari moncong senjata laras pendeknya. Nikmat sekali semburan itu dirasakan oleh Anita. Bersamaan dengan itu, Anita pun mengeluarkan cairan sebagai pembalas rasa hangat. Kemudian wanita cantik itu lemas dan lunglai dalam dekapan Boby.
Pada saat itu, Sumartono yang  sudah lama mencium gelagat tak baik pada istrinya, tanpa diduga oleh Anita pulang. Tanpa bersuara Sumartono langsung melangkah masuk ke dalam rumahnya, tanpa lebih dulu memencet bel, sebab dia mempunyai kunci cadangan.
Sumartono langsung menuju ke kamar dan membuka pintu kamar itu, seketika itu juga mata Sumartono membelalak ketika melihat apa yang sedang terjadi di dalam kamar itu.
“O, jadi begini yang kalian lakukan bila aku tidak ada di rumah?” gumam Sumarto dengan senyum sinis. Namun meski suara pelan, tetapi cukup menyentakkan Anita dan Boby.
“Mas Sumarto. . .”
“Pak Sumarto. . .”
“Cepat kenakan pakaian kalian lagi. Kemudian temui aku di ruang keluarga!” perintah Sumarto, lalu bergegas dia meninggalkan kamar itu, memberi kesempatan pada Anita dan Boby mengenakan pakaiannya lagi.
Dengan tergesa-gesa Anita dan Boby mengenakan pakaiannya kembali. Setelah berpakaian, mereka keluar dari kamar dan menemui Sumarto di ruang keluarga. Baik Anita maupun Boby tak menyangka, kalau keburukan mereka akan terbongkar juga.
Dengan kepala menunduk, Anita dan Boby menghadap Sumarto. Sumarto mempersilakan mereka untuk duduk. Mulanya Anita berniat duduk di samping suaminya, namun Sumarto menyuruhnya untuk duduk di samping Boby.
Sumarto memandangi Anita dan Boby bergantian. Keduanya masih tetap menunduk. Tak berani beradu pandang dengan Sumarto.
“Kau mencintai istriku, Boby?” tanya Sumarto.
“Aku. . .” Boby ragu untuk menjawab.
“Jawab saja dengan jujur. Kau tak perlu takut. . .”
“Aku memang mencintai Anita. . .”
“Kau mau mempertanggung jawabkan perbuatanmu, Boby. . .?” tanya Sumarto lagi sambil menatap ke wajah Boby lekat.
“Maksud Pak Sumarto?”
“Kau mau menikahi Anita?”
“Tapi. . .”
“Aku akan menceraikannya, aku tak mau menerima lagi Anita, karena penghianatan yang telah dia lakukan. . .”
Sumarto meninggalkan mereka. Ia masuk ke kamar untuk membereskan semua barang-barang yang harus dibawanya. Sementara Anita dan Boby saling menatap.
Malam itu juga, Sumarto pun pergi meninggalkan rumah  itu yang dia berikan pada Anita dan Boby. Dengan membawa penyesalan yang dalam setelah menyadari kesalahannya, Sumarto pun bermaksud mencari Siti Nara untuk meminta maaf dan jika Siti Nara mau, dia akan menikahinya sebagaimana janji yang telah mereka ikrarkan bersama. Namun sampai kini, Sumarto tak juga berhasil menemukan kekasihnya. Siti Nara bagai lenyap ditelan bumi.
“Siti Nara?” desis Nina dengan kening mengerut.
“Ya. Kenapa? Kau mengenalnya?”
“Dia. . . dialah yang telah merebut suamiku”
“Maksudmu”
Tanpa diminta , Nina pun menceritakan apa yang terjadi pada rumah tangganya. Semenjak pimpinan perusahaan di mana suaminya bekerja diganti oleh Siti Nara, suaminya pun berubah. Dan akhirnya diketahui kalau diam-diam antara suaminya dengan Siti Nara menjalin hubungan.
“Kau tahu dimana dia tinggal?” tanya Sumarto
“Ya. Aku baru dari sana.”
“Kalau begitu, sebaiknya kita kembali ke sana. Kau mau kan mengantarku ke sana. Aku harus menemuinya, dan aku akan berusaha membantumu untuk mendapatkan suamimu kembali. . .”
Nina tak menyahut.
“Bagaimana, kau mau kan?”
Terlebih dulu Nina menarik napas panjang dan berat, sebelum akhirnya dengan wajah tampak murung menganggukkan kepala.
“Terimakasih, Nina. Aku tak akan melupakan kebaikanmu. Dan jika kau tak keberatan, karena kini aku telah sebatang kara, maukah kau kuangkat sebagai saudaraku?”
“Saudara?”
“Ya.”
“Apakah Mas tak punya saudara?”
“Sebenarnya aku punya seorang saudara. Namun sejak bencana alam itu, aku pun terpisah dari adik dan kedua orang tuaku. Waktu itu usiaku masih sepuluh tahun. Dan adikku waktu itu masih bayi. . .” kenang Sumarto dengan wajah murung.
“Apa Mas sudah berusaha mencari adik dan kedua orang tua Mas?”
“Sudah. Tetapi tak seorang pun yang tahu, kemana mereka pergi.”
Sumarto pun membalikkan arah mobil ke arah semula.
Lima belas menit kemudian, mereka pun sampai di depan sebuah rumah mewah yang mereka tuju.
Seorang pembantu membukakan pintu gerbang. Sehingga Sumarto bisa memasukkan mobilnya ke halaman rumah itu yang luas.
“Maaf, apa benar di sini rumah Siti Nara?” tanya Sumarto.
“Benar. Tuan siapa dan ada keperluan apa?”
“Saya Sumarto, temannya. Apa Nara-nya ada?”
“Ada.”
Sumarto turun dari mobilnya, sedangkan Nina tetap duduk di dalam. Hal itu membuat Sumarto akhirnya mengajak Nina ikut turun.
“Ayo. . .”
“Tidak ah, Mas.”
“Kenapa?”
“Saya malu.”
“Malu sama siapa? Sama suamimu? Kalau suamimu macam-macam, jangan harap aku akan membiarkannya. Akan kuhajar dia, kalau berani menyakiti hatimu!”
Karena terus dipaksa, akhirnya Nina pun menurut turun. Kemudian keduanya melangkah menuju teras rumah mewah itu.
Baru saja mereka sampai di teras, dari dalam keluar Siti Nara dan Susilo. Mata mereka membelakan, ketika mengetahui siapa yang datang.
“Kau. . .!” desis Siti Nara.
“Ya, aku.” Jawab Sumarto.
“Mau apa kau menemui aku?”
“Nara, aku memang bersalah. Aku bersedia di hukum. Kumohon, ampunilah aku. Sungguh aku menyesal telah meninggalkanmu. Aku benar-benar menyesal, karena ternyata perempuan itu buka perempuan baik-baik. Dan perlu kau tahu, rupanya dulu aku diguna-guna olehnya. . .”
“Lalu, sekarang kau mau apa?”
“Jika kau percaya, aku ingin menebus kesalahanku yang dulu. Aku ingin menepati janjiku padamu. Kita menikah. . .”
“Sebegitu mudahnya kau bicara, Mas. Kau sakiti hatiku, lalu kini kau memintaku memaafkanmu dan mau menerimamu kembali.”
“Aku bersedia melakukan apa saja, asalkan kau mau percaya pada kesungguhanku. Kumohon, Nara. . .” Sumarto berlutut di depan kaki Siti Nara dengan kedua tangan memegangi kedua kaki perempuan cantik itu. Air matanya pun mengalir, membuat Siti Nara dan Susilo serta Nina terharu melihatnya.
“Bangunlah, Mas.”
“Tidak. Aku tak akan bangun, sebelum kau mau memafkanku dan bersedia menerimaku kembali. . .”
Siti Nara menggigit bibir, seakan berusaha untuk menahan kesedihan hatinya yang dalam. Seketika, ingatannya pun kembali melayang ke masa silam. Masa-masa indah bersama Sumarto sebelum datang Anita.
“Nara. . . Katakanlah, kau mau memaafkan dan menerimaku, bukan?”
“Mas Marto. . .”
Sambil menangis, Siti Nara menggerakkan kedua tangannya. Memapah Sumarto bangun. Kemudian dengan penuh keharuan dan kesedihan, dipeluknya lelaki yang dicintainya itu. Sehingga keduanya pun berpelukan dan bertangisan, tanpa perduli kalau di situ ada dua orang yang hanya b, kemuisa termangu dengan wajah turut haru.
Setelah mereka untuk beberapa saat hanyut dalam keharuan, Siti Nara kemudian mengajak Sumarto masuk. Lalu dia pun memperkenalkan Susilo pada Sumarto.
“Siapa namamu?”
“Susilo, Pak.”
“Su—si—lo. . .?” terbata Sumarto menyebut nama itu. Sedang matanya, dengan lekat memandangi wajah Susilo.
“Ada apa, Mas?” tanya Siti Nara.
“Apakah ayahmu bernama Darsono dan Ibumu bernama Sumiati?” tanya Sumarto tanpa menghiraukan pertanyaan Siti Nara.
Terbelalak mata Susilo mendengar Sumarto menyebut nama kedua orang tuanya. “Ya. Darsono itu nama ayahku dan Sumiati nama ibuku. Dari mana baka tahu?”
“Bapak? Jangan panggil aku bapak.”
“Lalu, saya harus manggil apa?”
“Aku Masmu, Sus. Aku kakakmu. . .”
“Mas. . .?”
“Ya. Apa ayah atau ibu tak pernah bercerita padamu tentang aku?”
“Ayah dan ibu memang pernah bercerita, kalau aku punya seorang kakak. Namun setelah musibah bencana alam itu melanda desa kami, dan ayah tak berhasil menemukannya, kami pun ikut transmigrasi ke Lampung. Kami menganggap kakak telah meninggal, menjadi korban bencana alam itu. . .”
“Aku masih hidup. Aku di tolong oleh seseorang yang kemudian mengangkatku sebagai anaknya. . .”
“Mas. . . Jadi, Mas masih hidup. . .”
“Ya, aku kakakmu, Sus. . .”
Kedua kakak beradik itu sepontan bangun dari duduknya kemudian saling berpeluk tangis penuh keharuan dan kebahagiaan.
“Dimana ayah dan ibu, Sus?”
“Mereka sudah meninggal sejak aku duduk di bangku SMP, Mas.”
“Oh. . .” keluh Sumarto sedih.
“Jadi, kalian kakak beradik?” tanya Siti Nara.
“Ohh. . .” Siti Nara menangis penuh sesal, namun juga bahagia.
“Sus. . .”
“Ya, Mas?”
“Ketahuilah, bahwa kau sekarang adalah calon ayah,” tutur Sumarto memberitahu.
“Aku calon ayah?”
“Ya.”
Susilo memandang ke arah Nina yang sedari tadi diam. Lalu perlahan dia melangkah menghampiri istrinya. Dengan lekat, matanya menatap ke wajah Nina yang murung dan Sendu.
“Benarkah apa yang kakaku katakan, Nina?” tanya Susilo sambil memegang pundak istrinya. “Jawab, Nina. Benarkah aku akan menjadi seorang ayah?”
Nina hanya mengangguk lemah.
“Oh, betapa berdosanya aku yang telah menyakiti perasaanmu, Nina.”
“Hampir saja dia dan anakmu mati, Sus.” Tutur Sumarto.
“Kenapa?”
“Dia hendak bunuh diri, ketika kutemukan. Beruntung, aku bisa membujuknya. Kalau tidak. . .”
“Nina. . . maafkan aku. . .” rintih Susilo sambil merebahkan kepala di pangkuan istrinya. “Aku berjanji, tak akan menyakitimu. Aku berjanji. . .”
Dengan penuh keharuan, Nina memeluk dan membelai kepala suaminya.
Semua sudah jelas. Semua menyadari akan kesalahan masing-masing, sehingga akhirnya mereka kembali bersatu. Susilo kembali pada istrinya, sedangkan Siti Nara kembali pada kekasihnya. Mereka berjanji, tak akan saling mengganggu. Dan akhirnya, mereka pun hidup bahagia dengan cinta yang ada.

Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *